Kamis, 12 Agustus 2010

Peranan Geologi Dalam Arsitektur Candi

Penemuan Candi Kimpulan di kompleks terpadu Universitas Islam Indonesia menambah deretan panjang candi-candi yang terkubur endapan Merapi di sekitar Yogyakarta, sebagai bukti bahwa Yogyakarta telah menjadi pusat peradaban sejak abad ke-VIII Masehi. Bangunan candi ini terdiri dari Candi utama seluas 6 x 6 meter dan Candi Perwara seluas  6 x 3 meter yang dikelilingi oleh pagar seluas 12 x 12 meter. Tidak seperti candi-candi pada umumnya di sekitar Yogyakarta yang arah bangunannya sesuai arah mata angin, Candi Kimpulan berarah N 343o E. Candi ini terkubur sedalam 4,5 m. Dari kegiatan ekskavasi Candi Kimpulan, ditemukan banyak hal menarik dan terbilang baru, baik ditinjau dari sisi arkeologi maupun geologi, seperti dugaan arsitektur candi yang merupakan kombinasi antara batu dan kayu. Pada lantai candi di ujung ditemukan endapan lempung pasiran terdapat umpak (bulatan pada lantai candi). Dari kenampakan tersebut dapat ditafsirkan bahwa saat diendapkan pasir kasar – pasir kerikilan di atas umpak-umpak tersebut masih ada tiang-tiang kayu yang masih berdiri, kemudian kayu-kayu tersebut dicabut dan timbullah lubang-lubang di atas umpak sampai dengan banjir berikutnya yang menghasilkan endapan lempung pasiran yang kemudian mengisinya. Hal ini kemudian memperkuat dugaan bahwa arsitektur Candi Kimpulan pada masa lampau memiliki tiang penyangga atap yang ditegakkan di atas umpak

ENDAPAN SEDIMEN PENIMBUN SITUS CANDI KIMPULAN (CANDI UII)


Struktur bangunan Situs Candi Kimpulan ditemukan pada tanggal 11 Desember 2009 secara tidak disengaja pada saat pembuatan fondasi bangunan perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dimana struktur bangunan candi tertimbun sedalam 2,1 meter di bawah permukaan tanah, dimana tanah yang menimbun Situs Candi Kimpulan berupa endapan sedimen lepas. Bangunan candi ini terdiri dari Candi Induk berukuran 6 x 6 meter dan Candi Perwara berukuran 6 x 3 meter yang dikelilingi oleh pagar seluas 12 x 12 meter, selain itu terdapat 12 umpak yang digunakan untuk penyangga tiang atap penutup candi yang berada pada bangunan candi utama dan 8 umpak berada di candi perwara. Penggalian Situs Candi (ekskavasi) dilakukan dengan cara test spit , dimana dibuat suatu lubang dengan ukuran 2 x 2 meter dan lubang digali berdasarkan per spit yaitu 20 cm. Pada setiap kedalaman dapat diamati endapan-endapan sedimen berupa endapan sedimen berukuran lempung (< 256 mm) - pasir sedang (1/4mm – 1/2mm) – bongkah (> 256 mm). Kondisi endapan sedimen yang berukuran pasir sedang (1/4 mm – ½ mm) – pasir kasar (1/2 mm - 2 mm) merupakan suatu matriks dan fragmen-fragmen mengambang (floating mass) yang merupakan pecahan-pecahan batuan andesit yang berukuran krikil (2 mm – 4 mm) – bongkah ( > 256 mm) (Boggs., 1987).

POLA PENGENDAPAN PADA CANDI UTAMA DAN CANDI PERWARA

Pada candi utama kondisi endapan sedimen agak berbeda dengan kondisi diluar bangunan candi, hal ini dikarenakan karena arus lahar yang masuk memlalui celah kecil yang merupakan pintu candi. Paling bawah merupakan endapan pasir vulkanik bergradasi berukuran pasir kasar – pasir sedang dengan ketebalan 30 cm, semakin ke tengah atau ke arah didekat pintu candi endapan pasir vulkanik mengalami penipisan menjadi setebal 20 cm dan menebal kembali pada ujung bangunan candi sebelah selatan. Kemudian terendapkan endapan pasir kerikilan dengan ukuran butir berukuran pasir sedang setebal 20 cm, semakin kearah pintu candi semakin menebal menjadi setebal 30 cm dan semakin kearah selatan bangunan candi kembali menjadi 20 cm, diatas endapan pasir kerikilan terdapat endapan pasir kerakalan dengan tebal 20 cm semakin ke arah pintu candi semakin menipis menjadi 10 cm dan semakin ke selatan bangunan candi endapan sedimen menebal. 
Setelah itu terendapkan lempung pasiran dan endapan pasir kerikilan. Kondisi endapan sedimen pada bagian dalam candi terdapat umpak-umpak dimana umpak-umpak tersebut diperkirakan suatu tiang kayu, sempat pernah ada suatu penggalian untuk penyelamatan candi pada jaman dulu dengan mengangkat tiang kayu yang terpasang diatas umpak, sehingga terjadi kekosongan endapan sedimen, kemudian setelah pengendapan berlanjut maka masuklah lempung yang bercampur pasir karena terdapat genangan suatu air pada lubang bekas tiang kayu di atas umpak tersebut akibat suatu banjir lanjutan. 











Tidak ada komentar:

Posting Komentar